Welcome

Blog buat latihan nulis nih, maaf kalo konten nya kurang sesuai dengan harapan.. hehehe

Senin, 06 Juni 2011

Leadership (edisi copas)

A. DEFINISI KEPEMIMPINAN
Ivansevich dan Matteson (2008) menyatakan kepemimpinan merupakan kemampuan untuk memakai pengaruh dalam lingkungan atau situasi organisasi, untuk menghasilkan efek yang berarti dan berdampak langkung terhadap pencapaian tujuan yang menantang.
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk berbuat guna mewujudkan tujuan-tujuan yang sudah ditentukan. Kepemimpinan selalu melibatkan upaya seseorang (pemimpin) untuk mempengaruhi perilaku seseorang pengikut atau para pengikut dalam suatu situasi. (Manullang.M., & Manullang. M, 2001).
Robbin S.P, (2002) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk pencapaian tujuan. Sedangkan menurut Ishak. A dan Hendry. T (2003), kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan seseorang untuk menguasai atau mempengaruhi orang lain atau masyarakat yang berbeda-beda menuju pencapaian tertentu.
Dari definisi-definisi kepemimpinan yang berbeda-beda tersebut, pada dasarnya mengandung kesamaan asumsi yang bersifat umum seperti: (1) di dalam satu fenomena kelompok melibatkan interaksi antara dua orang atau lebih, (2) di dalam melibatkan proses mempengaruhi, dimana pengaruh yang sengaja (intentional influence) digunakan oleh pemimpin terhadap bawahan.
Disamping kesamaan asumsi yang umum, di dalam definisi tersebut juga memiliki perbedaan yang bersifat umum pula seperti: (1) siapa yang mempergunakan pengaruh, (2) tujuan daripada usaha untuk mempengaruhi, dan (3) cara pengaruh itu digunakan
Berdasarkan uraian tentang definisi kepemimpinan di atas, terlihat bahwa unsur kunci kepemimpinan adalah pengaruh yang dimiliki seseorang dan pada gilirannya akibat pengaruh itu bagi orang yang hendak dipengaruhi. Peranan penting dalam kepemimpinan adalah upaya seseorang yang memainkan peran sebagai pemimpin guna mempengaruhi orang lain dalam organisasi/lembaga tertentu untuk mencapai tujuan. Menurut Wirawan,mempengaruhi adalah proses dimana orang yang mempengaruhi berusaha merubah sikap, perilaku, nilai-nilai, norma-norma, kepercayaan, pikiran, dan tujuan orang yang dipengaruhi secara sistematis

Kamis, 26 Mei 2011

Tentang pendidikan karakter

Pendidikan karakter seperi yang ramai dibicarakan saat ini sebenarnya merupakan sebuah reaksi dari permasalahan permasalahan sosial yang timbul akhir akhir ini. Adanya blow up dari media massa seakan akan menjadikan pendidikan karakter ini merupakan sesuatu yang baru dan harus diterapkan dalam pendidikan di indonesia.
Permasalahan buruknya moral beberapa oknum pejabat, generasi muda, maupun pegawai baik negeri maupun swasta seakan-akan menjadi penguat akan perlunya pendidikan karakter. pertanyaan yang kemudian muncul adalah sebenarnya apa to pendidikan karakter itu?
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Sebenarnya inti dari sebuah pendidikan adalah seperti halnya pengertia dari pendidikan karakter. Ketika sebuah pendidikan sudah berada dalam rel yang benar maka yang terjadi adalah pendidikan mampu menciptakan sebuah sistem peradaban yang baik, yang berisikan manusia-manusia yang mampu dan mau memanusiakan manusia lainnya.
Permasalahan yang terjadi adalah membuat pendidikan bak sebuah perusahaan yang mencetak siswa-siswi yang sesuai dengan mutu yang diinginkan. Diantara para siswa dibiasakan berorientasi pada prestasi akademik semata tanpa mengakomodir kebuthan akan hal hal yang lain. Apalagi apabila para guru sudah mempunyai mind set bak seorang karyawan.. Dia hanya akan memberikan pengajaran apabila dibayar sesuai dengan tarif yang diinginkan. Belum lagi apabila ia hanya menjadi seorang guru dikarenakan gaji, sudah barang tentu kualitas pembelajaran yang dilakukan hanya sebatas mengajarkan pengetahuan tanpa adanya internalisasi nilai.
Proses internalilasi nilai dalam pendidikan dilakukan ketika seorang guru mengajar dan mendidik. Ulama-ulama jaman dahulu dalam melaksanakan proses pembelajaran selalu melakukan internalisasi nilai dan pembentukan akhlak muridnya. Bahkan seorang guru tidak sungkan untuk melaksanakan riyadhah bagi keberhasilan murid-muridnya. Hal yang dicapai sungguh luar biasa.. dapat kita lihat dalam buku-buku ataupun dalam sejarah bahwa seorang guru mempunyai murid yang cerdas baik secara intelektual, emosional, sosial, maupun secara spiritual. Eh kok malah ngelantur gini ya nulisnya.. ehehehehe.. ya disambung lain kali lagi.. sudah ngantuk jeh,,.. hehehe.. c u

Minggu, 10 April 2011

Apakah PAI harus di-UN-kan?

Persoalan Ujian nasional merupakan persoalan nasional yang seakan-akan tidak akan diselesaikan. Pro kontra akan adanya ujian nasional yang lebih tenar dengan istilah "UN" timbul tenggelam diantara permasalahan nasional lainnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah UN itu begitu penting sehingga harus ada? ataukah sesuatu yang sesungguhnya tidak perlu ada akan tetapi diada-adakan?
Apabila kita melihat perkembangan masyarakat yang semakin pintar dalam menilai sebuah permasalahan, banyak diantara mereka yang menginginkan agar UN dihapuskan karena pelaksanaan UN belum dapat dijadikan sebagai barometer kesuksesan pendidikan di Indonesia. adanya Ujian nasional masih disikapi oleh pelaku pendidikan hanya sebagai rutinitas belaka bahkan dibeberapa daerah hasil UN dijadikan sebagai kebanggaan sehingga berlomba-lomba untuk memperoleh hasil yang tinggi tanpa melihat proses yang seharusnya terjadi. kecurangan terjadi disana sini sebagai kompensasi dari keinginan untuk memperoleh hasil UN yang tinggi. Bahkan ada daerah yang melakukan kecurangan sampai tingkat provinsi demi mendapatkan hasil yang tinggi. Apakah tujuan UN adalah seperti itu?
Belum selesai permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan UN, mulai tahun ini sudah akan diterapkan UN PAI? Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apakah PAI sangat penting di UN kan? ataukah hanya karena efek gengsi saja karena mata pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa indonesia? Bagaimana pendapat anda?

Rabu, 03 November 2010

Mengandalkan Intuisi dengan Tepat

Memang, intuisi cukup sulit diterjemahkan. Sebagian orang menyebutnya sebagai feeling, perkiraan, perasaan, spekulasi, kreativitas, atau imajinasi. Tapi apapun terjemahannya, dalam waktu tertentu intuisi diperlukan untuk mendukung sebuah keputusan. Tentu saja dalam dunia bisnis, intuisi tidak bisa diandalkan tanpa pertimbangan lainnya.

Intuisi perlu dilengkapi dengan sejumlah data dan uji coba. Contohnya Einstein, ia mendapatkan gagasan berdasarkan intuisi. Namun, ia berusaha melakukan uji coba dan eksperimen untuk mengukur sejauhmana keakuratan gagasan itu.

Berdasarkan survei, sejumlah pemimpin puncak mengaku memakai intuisi dalam mempekerjakan dan mempromosikan karyawan. Sebagian lagi mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan tentang produk. Tapi tetap saja intuisi harus dikendalikan. Karena seperti halnya logika, intuisi juga bisa salah. Lalu bagaimana menggunakan intuisi dengan tepat?

Ada beberapa hal yang bisa dimanfaatkan jika ingin memanfaatkan intuisi Anda, seperti yang diungkapkan oleh Rekan Kantor berikut ini:

* Bedakan intuisi dari angan-angan muluk
Jika Anda ingin memakai intuisi, coba tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda dipengaruhi oleh pikiran dan harapan yang muluk atau sekedar perkiraan semata? So, lebih baik jika Anda mengandalkan intuisi secara objektif. Artinya intuisi itu berdasarkan perkiraan yang didukung data-data.

* Bedakan intuisi dan keinginan pribadi
Seringkali seseorang mencampuradukkan intuisi dengan keinginan pribadi. Misalnya Anda memperkirakan kesuksesan peluncuran produk hanya karena produk itu karya Anda sendiri. Hindari perkiraan semacam ini. Anda boleh saja meluncurkan produk berdasarkan intuisi, karena produk tersebut benar-benar layak dipasarkan dan berkualitas, bukan cuma karena karya Anda sendiri.

* Jangan campur intuisi dan emosi pribadi
Perkiraan yang didasarkan emosi pribadi jelas tidak obyektif. Contoh kasus, pelaku bisnis di Inggris terus mempertahankan suatu produk hanya karena penghuni istana Buckingham masih suka memakai produk itu, sementara masyarakat umum sudah tidak menyukainya sama sekali. Hal seperti inilah yang harus dihindari.

* Jangan memakai intuisi secara terburu-buru
Kadang intuisi memang muncul secara mendadak, namun jangan keburu menggunakannya sebagai langkah pengambil keputusan atau tindakan. Intuisi itu tetap memerlukan kelayakan uji coba untuk menghindari penilaian yang terlalu dini.

* Jangan enggan menguji
Seberapapun canggihnya intuisi Anda, pertimbangkan untuk menguji kelayakan intuisi itu. Jangan terlalu saklek oleh satu intuisi tanpa pertimbangan lain. Dengarkan pendapat orang lain tentang intuisi Anda disertai suatu pengujian serius.

Nah, sudahkah Anda menggunakan intuisi dengan tepat? Jika Anda dapat memanfaatkannya dengan baik, bukan tak mungkin bisnis atau pekerjaan Anda dapat berlangsung sukses.

Selamat memanfaatkan intuisi...![*]

Pelihara Otak Agar Tetap Bugar

1. Jaga makanan atau diet. Makanan yang asal-asalan bisa membuat tubuh rusak. Hindari
kegemukan karena bisa menyebabkan munculnya penyakit seperti diabetes, jantung, hipertensi dan lainnya.

2. Hindari minum alkohol dan mengkonsumsi narkotika karena bisa meracuni bisa otak.

3. Waspadalah bila Anda memasak menggunakan panci, ketel, atau pembungkus alumunium foil
karena alumunium yang berlebih dalam darah bisa menurunkan daya ingat. Selain alumunium, zat besi dan silikon juga bisa meracuni otak.

4. Berolahragalah secara teratur. Kalau tidak memungkinkan, minimal lakukan jalan kaki setiap hari selama 30 menit.
Usahakan untuk latihan pernapasan dan melakukan senam otak.

5. Jauhi tempat-tempat yang berpolutan tinggi karena CO (karbonmonoksida) yang terkandung dalam asap mobil bisa meracuni otak.

6. Asah otak, misalnya dengan main catur, bridge, mengisi teka-teki silang, mengajari cucu, mempelajari sesuatu dan mempraktekkannya.

7. Tanggulangi stres dengan baik. Bisa dengan rileksasi, meditasi atau menggeluti hobi.

(Senior edisi No.171)
Sumber: Senior